Blogger templates

Pages

Showing posts with label fotografi. Show all posts
Showing posts with label fotografi. Show all posts

Wednesday, 5 June 2013

Menggunakan Efect Blur Pada PhotoShop

Motion Blur

1. Duplikat background layer 3x, caranya dari panel menu di photoshop, pilih Layer > Duplicate Layer. Lakukan ini 3x sehingga nantinya kita dapat 3 layer yaitu background, background copy, background copy 2, background copy 3.
2. Pada layer background copy 3, gunakan tool untuk menseleksi (seperti lasso tool, pen tool atau magic wand) pada bagian yang tidak akan di blur, misal pada bagian mobil pada foto ini.
3. Jika sudah terseleksi (seperti gambar diatas) selanjutnya klik icon add vector mask untuk membuat layer mask pada layer background copy 3. Lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini.

4. Pada layer background copy 2, seleksi di bagian kaca mobil yang nantinya akan di blur lalu klik icon add vector mask, kemudian klik kanan pada layer tsb dan convert to smart object. Lakukan hal yang sama untuk layer background copy. Drag/geser layer background copy 3 agar berada dibawah kedua layer ini.
5. Membuat Motion Blur pada layer background: Select/pilih/tempatkan pointer pada layer background, lalu klik Filter > Blur > Motion Blur. Atur kedalaman efek blur yang diinginkan. Lakukan hal yang sama untuk layer background copy dan background copy 2.
Note: Jika sobat tidak menggunakan objek dengan gambar mobil seperti diatas, langkah no 4 dapat dilewati.
Jika sudah mendapatkan hasil efek motion blur yang diinginkan, save pekerjaan sobat, save as juga kedalam format JPEG.

Spin Blur

Buka file gambar yang sudah sobat save tadi dan buatlah seleksi pada bagian ban mobil dengan menggunakan lasso tool. Lalu pilih menu Filter > Blur > Radial Blur, pilih efek spin dan atur seperti gambar dibawah ini. Jika sudah klik OK, lakukan hal yang sama untuk roda satunya.

Zoom Blur

1. Duplikat layer background 1x, lalu seleksi bagian yang tidak di blur pada layer background copy. Misal, objek mobil seperti gambar dibawah ini.

2. Jika sudah diseleksi, klik icon add vector mask seperti gambar dibawah ini.

3. Membuat efek Zoom Blur: tempatkan pointer mouse pada layer background, lalu cari menu Filter > Blur > Radial Blur. Berhubung objek yang digunakan adalah gambar mobil yang tampak dari depan, maka blur method yang dipilih adalah zoom. Hasilnya seperti gambar dibawah ini.

Lens Blur

Dengan teknik ini seolah-olah objek menjadi auto focus karena efek blur pada background. Berikut tutorialnya:
1. Seleksi bagian/objek yang akan di auto focus, misal pada foto dibawah ini (foto waktu ultah sweet seventeen adikku kemarin :P). Jika sudah terseleksi, tekal ctrl+c (copy) lalu ctrl+v (paste) untuk mendapat layer dengan hasil seleksi tsb.

2. Membuat efek Lens Blur: Pada layer background, pilih menu Filter > Blur > Lens Blur. Sesuaikan ketajaman efek blur yang sobat inginkan, jika sudah pilih OK. Hasilnya kurang lebih seperti foto dibawah ini.

Surface Blur

Cara ini kita dapat menghaluskan permukaan objek. Biasanya teknik ini digunakan untuk menghaluskan permukaan kulit/wajah agar tampak seperti di make over.

1. Seleksi objek yang akan dihaluskan permukaannya, misal pada bagian wajah seperti foto dibawah ini. Jika sudah diseleksi, tekan ctrl+c lalu ctrl+v.

2. Menghaluskan permukaan kulit wajah: Filter > Blur > Surface Blur pada layer yang sudah diseleksi tersebut.

Tuesday, 21 May 2013

Cowok Yang Jago Komputer Itu Kren

Tampaknya jago komputer hanya seperti mode atau tren yang diejek di satu hari, berikutnya, kita tidak bisa merasa cukup.  Kita semua menarik perbandingan antara jago komputer, kacamata tebal, seorang fiksasi Nintendo dan bakat sosial penyu. Tapi itu dulu, dan ini adalah sekarang …

 

Cowok Yang Jago Komputer Itu Kren
Cowok Yang Jago Komputer Itu Kren

 


Pria jago komputer sangat lucu dengan cara yang unik. Wanita suka yang unik dan lucu, itu menarik. Dan, itu merupakan perubahan menyegarkan untuk kencan dengan pria jago komputer, mengingat obsesi pria untuk punya tubuh indah tampak seperti NERAKA. Seorang gadis akan lebih suka kencan dengan seseorang yang lucu dan menarik daripada pria yang lebih peduli tentang apakah ia tampak baik dalam kemeja barunya.


jago komputer adalah orang berguna di zaman baru di abad 21. Ada frustrasi universal bersama antara pemilik komputer pribadi bila mereka rusak. Komputer hang dan kerusakan adalah salah satu perangkat yang paling membuat frustasi. Solusi? Minta jago komputer untuk memperbaikinya!

So...? Hahahaha.. Yang Jago Komputer its oke banget dech....


Sedikit Tambahan

harus diketahui seorang pria ahli komputer mengenai komputer..:


1. Kita Musti Menghibur Suasana Wanita Dari "Virus" Bete Dengan "Menscannya" Dengan Kata-Kata Kita Yang Telah terupdate "Databasenya Enginenya".

2. Kita Musti Ngasih Sisa "Free Space" Hati Kita Untuk Wanita....., Agar Si Wanita Selalu Di Hati Kita.

3. Kita Harus Merestart System Hati Kita, Ketika Sudah Ada Tanda-Tanda Suasana "OverHate" Dengan Wanita. Kalo Kamu Nggak Restart System Hatimu Ketika sedang Overheat, Lama-Lama Si Wanita Bakal "Terdelete" Dari Hardisk Hati Kita. Dan Bisa Membawa Virus Baru Lagi Yang Mempunya Varian nama : Patah Hati. Virus Ini Biasanya Sulit Untuk Dihapus, Kecuali Ada Wanita Lain Yang Mengisi Hardisk Hatimu

4. Jangan Lupa Selalu Ganti "Theme" Kamu, Karena, Si Wanita Kadang-Kadang Suka Bosen Dengan Theme Yang Itu-Itu Aja. Cobalah Pake theme Yang Terbaru And Cool, Seperti "Themenya Window Vista".

5. Ketika "Koneksimu" dengan Si Wanita Bermasalah, Cobalah Kamu Cek Kabel Networkmu, Jika Ga ada Yang Bermasalah Tapi tetep Ga Bisa, Coba Ketik Ini Di "Ms DOs" Hapemu "ping kamu_dimana ?" jika yang tertulis request time out, berarti rasa sayangnya udah mulai memudar, tapi kalo tulisannya, "can't find host server" berarti dia udah ga sayang ama kamu.

6. Kalo Para Wanita Ga Mau Masuk Ke "Systemmu", Berarti Systemmu Jelek, Banyak Virusnya, Hardwarenya Butut, Ganti Yang Baru dech, Dijamin PAra Wanita Akan Dengan Mudah Masuk Ke Systemmu....good luck

Saturday, 18 May 2013

Tips Triks Foto Weding

Tips dan Triks Pose weding


Berikut adalah beberapa pose foto wedding yang wajib dibuat oleh fotografer wedding dan pengantin Sebelum Acara

  •     Pengantin pria dan wanita sedang tengah di make up dan selesai di make up di ruang ganti
  •     Pengantin wanita sedang bercermin setelah di make up
  •     Pengantin wanita sedang memandang keluar jendela dari ruang ganti
  •     Pengantin pria dan wanita tiba di tempat akad nikah / pemberkatan
  •     Keluarga pengantin pria dan wanita tiba di lokasi
  •     Pengantin pria memandang pengantin wanita memasuki ruangan akad / pemberkatan
  •     Pengantin sedang membaca ijab Kabul / diberkati pendeta
  •     Pengantin pria dan wanita sedang menandatangani surat nikah
  •     Pengantin menunjukkan buku nikah
  •     Pengantin memamerkan cincin kawin
  •     Pengantin wanita mencium tangan pengantin pria
  •     Pengantin pria mencium pipi atau kening pengantin wanita
  •     Sungkeman
  •     Pengantin dengan orang tua dari kedua belah pihak
  •     Pengantin dengan orang tua dari masing - masing pihak
  •     Pengantin dengan keluarga pihak wanita ( orang tua, kakak dan adik )
  •     Pengantin dengan keluarga pihak pria ( orang tua, kakak dan adik )
  •     Pengantin wanita dengan pagar ayu
  •     Pengantin pria dengan pagar bagus
  •     Pengantin dengan pagar ayu dan pagar bagus
  •     Penerima Tamu
  •     Para tamu sedang menandatangani buku tamu
  •     Acara Hiburan, seperti penyanyi, pemain music, paduan suara dll
  •     Prosesi adat, seperti lempar sirih, injak telor tarian adat dll
  •     Pengantin berfoto dengan para tamu
  •     Dll

Pose Formal


  •     Pengantin wanita berpose sendirian ( penuh )
  •     Pengantin wanita berposesendirian ( close up / setengah badan )
  •     Pengantin pria berpose sendirian ( penuh )
  •     Pengantin pria berpose sendirian ( setengah badan )
  •     Pengantin berfoto bersama ( penuh )
  •     Pengantin berfoto bersama saling memandang dan berpegangan tangan (penuh )
  •     Pengantin pria merangkul pengantin wanita dari belakang ( penuh )
  •     Pengantin menghadap ke kamera sambil berpegangan tangan
  •     Pengantin wanita duduk dan pengantin pria berdiri di belakangnya
  •     Pengantin berfoto dengan orang tua masing – masing pihak
  •     Pengantin pria duduk di kursi dan pengantin wanita merangkulkan lengan di sekeliling bahu ( close up )
  •     Pengantin duduk bersama di pelaminan
  •     Pengantin berpose di pelaminan
  •     Dll

Foto Lainnya


  •     Kue pengantin
  •     Seserahan
  •     Mahar dan cincin kawin
  •     Kendaraan pengantin
  •     Dekorasi dan sajian makananan
  •     Pelaminan
  •     Pengantin saling menyuapi kue pengantin, untuk acara adat biasanya makanan yang disediakan adalah makanan tradisional contoh nasi tumpeng atau ayam bekakak
  •     Pengantin memotong kue pengantin
  •     Close up tangan kedua pengantin berpegangan memamerkan cincin
  •     Close up pakaian dan aksesories pengantin
  •     Foto candid para tamu
  •     Dll

Sunday, 12 May 2013

Antara Mirrorles,Dslr Dan Digital

Kamera DSLR biasanya dilengkapi dengan sensor yang relatif besar, dan didefinisikan dengan memiliki melalui-lensa (TTL) bidik optik - cahaya masuk melalui lensa, memasuki kotak cahaya, mencerminkan dari cermin, maka mencerminkan dari sebuah pentaprism (atau pentamirror) dan keluar melalui jendela bidik optik. Bila gambar diambil, cermin membalik keluar dari jalan, dan cahaya bukan hits permukaan pencitraan (film atau sensor digital).

Kamera kompak biasanya dilengkapi dengan sensor kecil, tidak memiliki viewfinder TTL dan tidak memiliki lensa dipertukarkan. Lensa tunggal dapat menjadi superzoom serbaguna seperti pada kamera jembatan. Sensor yang lebih kecil, bagaimanapun, memiliki pencitraan yang relatif miskin dalam banyak situasi, terutama cahaya rendah, karena tidak mampu menangkap cahaya sebanyak yang besar. Meskipun lensa superzoom ada untuk sensor besar juga, mereka menderita kerugian dalam kriteria seperti kualitas optik dan berat dibandingkan dengan lensa yang lebih terbatas (prime atau zoom). Untuk alasan ini, hampir semua kamera modern dengan sensor besar, yang disebut kamera sistem, menggunakan lensa.Tujuan awal MILCs 'adalah untuk menyediakan lensa dipertukarkan dan DSLR-seperti imaging berkualitas di tubuh kecil. Untuk mendapatkan ini mereka menggantikan viewfinder TTL dengan satu elektronik. Ukuran sensor di MILCs bervariasi, dengan memiliki ukuran sensor DSLR lebih mahal.Sebuah alternatif desain, hybrid antara DSLR dan MILCs, adalah kamera Sony SLT, yang dilengkapi dengan semi-transparan, cermin tetap. Yang terakhir ini digunakan untuk terus menerus fase kontras auto-fokus, baik ketika mengambil gambar dan ketika syuting video. SLTs tidak memiliki jendela bidik optik, atau cermin membalik, sehingga mereka menengah dalam kompleksitas mekanik dan massal antara DSLRs dan MILCs.Jenis MILCSony NEX-5


Terletak di antara kamera kompak dan DSLR, dua jenis utama MILCs telah mengembangkan: kompak dan DSLR-seperti. Yang kompak gaya adalah sekitar ukuran kamera saku yang lebih besar dan, terutama dengan lensa pancake, mereka bisa masuk dalam saku untuk beberapa derajat. DSLR-gaya MILCs tumpang tindih dengan DSLR entry-level, menyediakan tubuh berkontur dan fitur lengkap, seperti DSLR, tapi masih dalam tubuh yang secara signifikan lebih kecil dan lebih ringan.Tidak semua MILCs memiliki sensor besar: Pentax Q (diumumkan pada bulan Juni 2011) memiliki "sensor 1/2.3 (khas kamera kompak) Pada September 2011 format sensor baru diumumkan oleh Nikon untuk MILC pertama:. Format CX, [1] dengan area sensor 2,6 kali lebih besar dari 1/1.7 "sensor melengkapi kamera kompak high-end, dan sekitar setengah ukuran sensor Thirds Empat. [2] Sony NEX terlihat seperti kamera kompak dengan lensa zoom , namun memiliki sensor yang lebih besar,. sensor APS-C adalah ukuran yang sama seperti yang dilakukan sebagian besar (amatir) DSLR [3] The Canon EOS M, MILC pertama perusahaan tersebut, sedikit lebih kecil daripada NEX seri Sony, tetapi juga memiliki sebuah sensor APS-C. [4] Samsung NX10 (APS-C) dan Panasonic Lumix DMC-G2 (Micro Four Thirds) memiliki tubuh yang lebih besar dan tampilan yang mirip dengan DSLR [rujukan?], tetapi secara signifikan lebih kecil dari DSLR entry-level .Lensa melengkapi MILCsSony memasok 10 lensa E untuk sistem NEX nya (mengadopsi besar, sensor kuasi-APS-C). Micro Four Thirds System, bersama oleh Olympus dan Panasonic, saat ini menawarkan 34 lensa asli (termasuk 17 oleh Panasonic dan 12 oleh Olympus, tidak termasuk versi lensa yang sama, misalnya, semua tiga versi dari lensa 14-42mm dihitung bersama sebagai satu lensa). [5] Samsung memiliki 11 lensa yang berbeda tersedia untuk kamera NX nya (menggunakan sensor APS-C) [6] Nikon memiliki 7 lensa tersedia untuk Nikon 1 sistem.. Canon memperkenalkan dua lensa EF-M bersama EOS M. [4] Pentax K-01 dapat menggunakan semua lensa K-gunung yang ada, tetapi karena tidak memiliki sebuah kopling aperture, pra-1983 lensa (yaitu, asli K dan KF) membutuhkan [7] Banyak adapter lensa berhenti-down metering. eksis tetapi kebanyakan tidak mendukung autofocus.Ukuran sensorNikon 1 V1 dengan Nikkor 10-30mm f/3.5-5.6 terpasang, dan Nikon 1 gunung 30-110mm f/3.8-5.6 lensa telezoom(Rincian dan angka ukuran sensor dalam ukuran Sensor dan sudut pandang dan Format Image Sensor)Ada terelakkan trade-off antara ukuran sensor dan kekompakan kamera, karena ukuran lensa yang dibutuhkan. Ukuran sensor bervariasi antara kamera mirrorless interchangeable-lens. Micro Four Thirds sistem menggunakan sensor ukuran yang sama dengan 225mm2 Four Thirds System (terkecil di antara DSLR tapi sembilan kali luas kamera kompak khas 25mm2 1/2.5 "sensor), sedangkan Fujifilm X kamera, Samsung NX kamera dan Sony NEX kamera menggunakan sensor ukuran APS-C 65% lebih besar dari 370mm2. Canon EOS M menggunakan sensor APS-C sedikit lebih kecil dengan luas 329mm2. Nikon 1 seri menggunakan kecil 115mm2 1 "sensor jenis (13.2 × 8.8mm) dengan crop factor 2,7 [8] dan Pentax Q menggunakan kamera kompak lebih kecil 28.5mm2 1/2.3 "sensor gambar dengan crop factor 5,5, sementara APS-C memiliki crop factor 1,5, Canon APS-C memiliki tanaman faktor 1,6, dan Micro Four Thirds MILCs memiliki 2.0. [9]Hingga Mei 2012, hanya 24 × 36 mm (864mm2) MILCs adalah Leica M9 dan terkait erat M9-P, dan M Monochrom (penembakan kedua hanya dalam warna hitam-putih). Karena semua adalah kamera pengintai, mereka memiliki viewfinder optik dan dengan demikian dapat disebut MILCs, tapi tidak kejahatan.ManfaatMILCs menggabungkan beberapa manfaat dari kedua kamera kompak dan DSLR. Dibandingkan dengan kamera kompak, mereka menawarkan fleksibilitas yang diperbolehkan oleh lensa dipertukarkan. Selain ini, mereka yang MILCs yang dilengkapi dengan sensor besar juga menawarkan semua keuntungan yang terkait dengannya.Dibandingkan dengan DSLR, MILCs lebih kecil (karena bagian lebih sedikit) dan kokoh (karena sedikit bagian yang bergerak). Karena kurangnya sistem cermin, MILCs dilengkapi oleh besar, sensor DSLR-seperti, dapat menempatkan lensa jauh lebih dekat untuk itu (jarak kembali mengarah) bila dibandingkan dengan DSLR. Jadi lensa berkualitas tinggi dapat dibuat lebih kecil, lebih murah, dan lebih ringan (lensa wide-angle khususnya). Namun, pemilihan lensa saat ini, meskipun tumbuh, masih relatif terbatas dan mahal dibandingkan dengan pasar lensa DSLR sangat berkembang dengan baik. MILCs kompak bergaya dilengkapi dengan tipis "pancake" lensa yang saku, maka sebagai portabel seperti kamera kompak yang lebih besar, tetapi ketika dilengkapi dengan lensa yang lebih besar mereka kurang portabel dan tidak pada umumnya saku.Kebisingan pada aktivasi shutter lebih tenang karena tidak ada cermin bergerak. Pada bulan Agustus 2011 harga MILCs lebih tinggi dari yang termurah entry-level DSLR [rujukan?], Tetapi menurun tajam dan, hingga November 2011, beberapa model dijual kurang dari high-end kompak, non-sistem kamera dari produsen yang sama.Olympus PEN E-P2 untuk Micro Four Thirds systemKerugianMILCs berbagi banyak keterbatasan dari kedua kamera kompak dan DSLR. Ini termasuk:Tidak ada jendela bidik optik TTLOlympus PEN E-PL5 fitur LCD dimiringkanKurangnya melalui-lensa bidik optik (TTL OVF) adalah ciri MILCs, dan juga ditemukan pada kamera kompak - optical viewfinder TTL memerlukan jalur optik dari lensa mengambil ke jendela bidik, maka desain SLR.MILCs terutama menggunakan layar LCD belakang untuk menembak lengan-tingkat, tetapi beberapa juga memiliki jendela bidik elektronik (EVF) untuk pemotretan setinggi mata yang mungkin menderita lag terlihat antara perubahan dalam adegan dan layar jendela bidik elektronik, atau optik jendela bidik yang tidak TTL (seperti dalam pengintai) yang menderita paralaks, terutama pada jarak pendek.Kontras deteksi autofocus, daripada fase sistem deteksi autofocusAF berbasis Kontras umumnya lebih lambat daripada sistem AF berbasis fase ditemukan di DSLR, [10] sering secara signifikan, sampai Juli 2011 ketika Olympus Pen E-P3 melampaui kisaran DSLR top dalam memfokuskan kecepatan untuk gambar diam. Peningkatan kecepatan telah dicapai dengan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk sistem autofocus-deteksi kontras untuk memulai operasi setelah setengah menekan tombol rana, menggandakan kecepatan pembacaan sensor untuk 120 frame per detik (Olympus akan segera menggunakan 240 fps di beberapa fokus mode), dan meningkatkan kecepatan yang rutinitas deteksi kontras beroperasi. Meskipun mikro dari Olympus dan produsen lain juga telah ditutup atau leapfrogged kesenjangan ini, masih ada kesenjangan dalam akurasi autofocus kontinyu dan kecepatan, dan dengan demikian MILCs masih tidak bagus dalam memotret objek bergerak, terutama pada olahraga, seperti DSLR."Salah satu" sistem Nikon menggabungkan fase fokus bersama-deteksi kontras autofocus, dan Nikon mengklaim itu secepat fokus untuk olahraga sebagai DSLR high end mereka. Salah satu keuntungan dari deteksi kontras autofocus adalah bahwa, untuk tetap subyek, akurasi autofocus cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan fase sistem mendeteksi, seperti kamera menggunakan output sensor aktual untuk menentukan fokus. Oleh karena itu, sistem CDAF tidak rentan terhadap isu-isu kalibrasi seperti depan atau belakang fokus karena dapat terjadi dengan fase mendeteksi sistem.Dimulai dengan NEX-5R, dirilis pada bulan November 2012, Sony telah juga memperkenalkan fase / kontras teknologi autofocus deteksi hybrid untuk kamera MILC mereka yang menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kecepatan autofocus. [11] Sony juga memproduksi sistem adaptor untuk mereka NEX seri MILC kamera yang memungkinkan teknologi cermin SLT mereka akan dipasang kamera NEX dengan cara adaptor. Adaptor ini memungkinkan kamera E-Mount untuk menggunakan A-Mount lensa dan membawa real time fase deteksi auto fokus keduanya masih dan fotografi video. [12]Ketidakcocokan dengan lensa yang adaKebanyakan sistem kamera MILC menggunakan mount lensa baru, yang agak tidak kompatibel dengan lensa yang ada - Micro Four Thirds (Panasonic dan Olympus), NX-mount (Samsung), E-mount (Sony), 1-mount (Nikon) dan EF- M mount (Canon). Ini berarti bahwa kedua lensa yang ada tidak dapat digunakan tanpa adaptor, dan bahwa lensa asli relatif sedikit ada untuk kamera ini pada saat pengenalan mereka, seperti lensa baru harus dirancang dan diproduksi untuk mount baru. Satu-satunya pengecualian adalah Pentax K-01, kamera mirrorless yang menerima semua warisan lensa K-gunung tanpa adapter apapun, tapi konsekuensinya adalah bahwa K-01 tidak setipis Sony NEX-7 atau Nikon 1 V1, meskipun lebih ramping dari salah satu SLR terkecil di pasaran, Pentax [13] K-5.Sebagai investasi terbesar dalam sistem kamera adalah lensa, bukan tubuh, dan lensa sering dekade terakhir, mengubah tunggangan dan membangun kembali koleksi lensa adalah investasi yang signifikan.Adapter ada untuk lensa warisan meskipun sebagian besar tidak mendukung autofocus pada tubuh MILC. Micro Four Thirds memiliki adapter dengan Four Thirds, Canon FD, Leica M, M42, Nikon, Olympus OM, Minolta, Pentax K, dan gunung C. Sony E-mount memiliki adaptor untuk tua Minolta A mount, Four Thirds, Canon FD, Leica M, M42, Nikon, Olympus OM, Minolta, Pentax K, dan gunung C. Nikon 1 seri memiliki adaptor untuk perusahaan F-mount, dan Canon EOS M memiliki adaptor untuk itu perusahaan EF-S mount, yang juga menerima lensa EF. Namun, bagian dari manfaat MILCs adalah bahwa baru, lensa yang lebih kecil dapat digunakan, untuk menyadari manfaat ini, baik lensa baru atau lensa untuk pendek jarak flange warisan gunung, seperti yang digunakan pada kamera pengintai, diperlukan.Hal ini dapat dibandingkan dengan situasi untuk APS-C berukuran DSLR, di mana Canon EF-S dan lensa Nikon DX secara khusus dirancang untuk menutupi hanya lebih kecil lingkaran imaging diperlukan untuk sensor yang lebih kecil, mengurangi ukuran lensa dan biaya produksi. Namun, mereka menjaga jarak yang sama gunung ke sensor, memberikan kompatibilitas dengan lensa yang dirancang untuk lebih penuh 35mm ukuran sensor.Kelemahan ini, bagaimanapun, agak seimbang dengan kenyataan bahwa kebanyakan kamera MIL ditujukan pada "point-and-shoot" pasar dimana pengguna jarang membangun sistem besar di sekitar kamera dan biasanya puas dengan lensa disertakan dengan kamera atau, di terbaik, membeli all-around "super-zoom" lensa untuk menutup semua situasi pengambilan gambar mungkin.Untuk produsen, strategi ini menghilangkan persaingan harga untuk lensa baru mereka dari lensa warisan kedua tangan.

Kamera Mirroles Termasuk Populer di Kelas Digital

The Mirrorless Kamera interchangeable-lens (MILC) adalah kelas populer kamera sistem digital. Tidak seperti kamera digital kompak, MILC yang dilengkapi dengan mount lensa dipertukarkan dan tidak seperti digital single-lens reflex camera, MILC tidak memiliki viewfinder optik berbasis cermin.
mirrorles


Berbagai nama alternatif ada - lihat terminologi - termasuk: Kamera Compact System (CSC), Mirrorless Camera System (MSC), Digital Single Lens Mirrorless (DSLM), Digital Interchangeable-Lens kamera Sistem, dan - akhirnya - Electronic Viewfinder dengan dpt Lens (EVIL ), ini istilah yang terakhir tidak berlaku untuk kamera dengan jendela bidik optik.

Pada 2012 ada beberapa sistem kamera MILC tersedia. Dalam kronologis (dengan pengenalan mereka) dan mengacu pada mengadopsi jenis lensa-mount, mereka adalah: Epson R-D1 menggunakan Leica M gunung pada tahun 2004; Leica sendiri pada tahun 2006, Micro Four Thirds meningkat untuk Olympus dan Panasonic MILCs, Samsung NX-mount untuk Samsung MILCs, Sony E-mount untuk Sony MILCs, Nikon 1-mount untuk Nikon MILCs, Pentax Q mount untuk Pentax kecil-sensor MILC (Pentax Q), K-mount untuk kedua DSLR Pentax dan Pentax besar-sensor MILC; X -mount untuk Fujifilm MILCs, dan Canon EF-M mount untuk Canon MILCs.
 

Thursday, 9 May 2013

Kamera Dlsr Pentax K-30 kamera pemberani


Nikmati hasil jepretan kamera sempurna dengan Pentax K-30. Kamera dengan desain solid ini mampu Anda bawa ke pelbagai tempat, dari pantai berpasir hingga ke hutan hujan Kalimantan karena Pentax K-30 mampu menangkap obyek tanpa perduli lokasi atau elemen yang berada di sekitarnya. Bodinya yang weather seal, membuatnya kokoh namun juga ringan sehingga Anda dapat dengan nyaman ketika membidik objek.

16 Megapiksel
Dengan sensor CMOS resolusi tinggi 16 megapiksel DX-format, maka hasil foto Anda bisa digunakan untuk mencetak pada resolusi yang besar dan bisa berguna ketika dilakukan cropping gambar tidak akan pecah.

Video HD 1080p
Kamera Pentax K-30 memiliki fungsi merekam video berkualitas HD dengan fitur full autofokus serta fitur Live View sehingga Anda dapat merekam seraya melihat proses perekaman pada layar 3 inchinya.

ISO 100 - 12800
Rentang ISO normal pada kamera ini adalah 100 - 12800, Anda juga bisa menambahnya hingga ISO 25600 (Hi2). ISO yang tinggi membuat Anda mampu melakukan pemotretan pada kondisi kurang cahaya, ataupun juga berguna untuk meningkatkan kecepatan shutter untuk menangkap momen-momen yang berlangsung dengan sangat cepat.

Bodi Kompak
Dibuat dengan material berkualitas, Pentax K-30 memiliki desain bodi yang kuat dan kokoh serta dilengkapi dengan tombol yang cukup besar untuk memudahkan pengoperasian kamera.

Mode Pengambilan Gambar
Untuk pengambilan gambar tersedia Pentax Sensitivity Priority dan Shutter And Aperture Priority untuk fleksibilitas yang memukau sementara mode otomatis pada mode Auto Picture dan Scene juga memiliki hasil yang mencengangkan.

Slot Kartu SD
Kamera ini memiliki kompabilitas kartu memori SD, SDHC, dan SDXC sebagai media penyimpanan hasil foto dan video Anda. Hal ini membuat Anda mampu menyimpan file NEF (RAW), JPEG, video secara terpisah.


Spesifikasi Pentax K-30

SKU
PE783ELABB4GANID-65921
Ukuran (L x W x H cm) 12.9 x 7.1 x 9.6 cm
Berat (kg) 2
Warna Putih
Ukuran Layar (in) 3.0
Megapiksel 16.0
Fitur HD Recording|Image Stabilization|Wide Angle
Garansi produk 1 Tahun Garansi Servis
Output Component Video|Composite Video|USB
USB Port Ya
Resolusi Layar 921000 dot
Tipe Baterai Li-Ion
Format Foto RAW (DNG), JPG
Ukuran File Foto 4928x3264
Format Video MOV, AVI, H.264
Video HD Ya
Resolusi Video 1920x1080
Focal Length 28 - 85 mm
Image Stabilization Ya
Range Aperture Lensa F/3.5-5.6
ISO Range 100-12800
Range Shutter Speed 30 - 1/6000 detik
Tipe Memory Card SD, SDHC, SDXC
Tipe Layar TFT LCD

 

Tuesday, 7 May 2013

Mengatur Komposisi Skala

hasil
Fotografi - Memasukkan elemen manusia ke dalam foto, otomatis memberikan kesan skala pada foto. Tanpa unsur manusia atau hal-hal yang mudah dikenali, pemirsa tidak bisa mengetahui seberapa besar dan luas pemandangan tersebut.

Misalnya, pendaki gunung akan memberikan gambaran berapa tinggi dan besar gunung yang didaki, orang yang mandi di bawah air terjun memberikan gambaran seberapa tinggi dan megah air terjun, perahu di tengah danau dan sebagainya.

Ada beberapa tips untuk menerapkan komposisi skala ini lebih efektif yaitu:

Pilihlah latar belakang yang relatif bersih/polos. Misalnya di gunung, sawah yang hijau, langit dan laut yang biru. Jangan tempatkan manusia atau hal-hal lain ditengah-tengah pohon-pohon yang beraneka ragam warna dan bentuknya.

Jangan meletakkan subjek foto terlalu dekat dengan kamera, karena akan membuat latar belakang menjadi terkesan sempit atau kecil. Tidak perlu selalu memasukkan elemen manusia untuk memberikan kesan skala, tapi subjek lain juga bisa, asal mudah dikenali, seperti motor, mobil, rumah dan sebagainya.

hasil
 SO 800, f/8, 1/320 detik

Foto diatas ini dibuat saat saya berkunjung ke situ Cileunca, sebuah danau di daerah Pangalengan, selatan Bandung. Saat itu hujan deras dan saya menemukan seseorang yang sedang memancing dengan payung yang berwarna cerah. Warna payung yang kontras dengan hijaunya pohon-pohon tinggi di latar belakang yang menarik perhatian saya untuk memotret.

Dengan mengunakan jarak fokus lensa 70mm (46mm di kamera bersensor APS-C), sengaja saya biarkan payung tersebut agak kecil sehingga memberikan kesan skala bahwa alamnya sangat luas dibandingkan dengan payungnya.




hasil
ISO 900, f/8, 1/320 detik

Di lokasi yang tidak terlalu jauh, saya tertarik memotret adegan dimana ada dua orang yang sedang mengamati pemandangan dari sebuah Saung dari atas bukit. Kita memang tidak bisa melihat detail orang-orang tersebut tapi kita bisa merasakan suasananya. Komposisi pohon dan saung yang mengikuti aturan sepertiga (rule of thirds) juga memberikan efek visual yang menarik.

Sunday, 5 May 2013

Kamera DSLR Terkecil: Canon EOS 100D

Teknology ,Seputar Fotografi - Keluhan tentang ukuran dan berat kamera tidak pernah saya dengar 5-6 tahun yang lalu. Saat itu, semakin besar ukuran kamera DSLR, semakin bagus kesannya. Ukuran besar dan berat mengesankan kekokohan, gengsi dan kualitas tinggi.

Kamera DSLR yang populer dan laris 5-6 tahun yang lalu berukuran besar. Tapi dua tahun belakangan, tren tersebut mulai membalik. Banyak penggemar fotografi yang suka jalan-jalan mulai mencari kamera berkualitas yang ukurannya lebih kecil dan bobotnya ringan.

Kamera dan lensa yang berat mulai ditinggalkan. Kemungkinan besar karena banyak yang sudah kapok mengangkut kamera DSLR yang berat beserta lensa-lensa dan tripod kemana-mana.

Maka itu, banyak orang mulai melirik sistem kamera baru seperti mirrorless/compact system camera. Tapi banyak juga yang belum ingin beralih, alasannya sudah terbiasa dengan menu, jendela bidik, lensa dan fitur-fitur khas DSLR. Selain itu, banyak yang sudah memiliki lensa-lensa DSLR yang ukurannya besar.

Canon memang termasuk lambat dalam membuat kamera mirrorless yang berukuran kecil dibandingkan dengan Olympus, Sony, Panasonic, Samsung bahkan Nikon. Memang, beberapa upaya sudah dilakukan Canon, seperti peluncuran Canon G1X, Canon EOS M, tapi keduanya belum diterima dengan hangat di pasaran.

Untuk menarik minat dan mempertahankan minat penggemar fotografi ke sistem kamera DSLR, Canon merilis Canon EOS 100D. Kamera ini dibuat sekecil dan seringan mungkin (hanya 407 gram dengan baterai).

Meskipun relatif kecil dan ringan, tapi kamera ini masih memiliki cermin, prisma dan jendela bidik ala DSLR. Yang terpenting juga, tidak seperti kamera Canon EOS M yang tidak dapat mengunakan lensa DSLR Canon (kecuali dengan adapter khusus).

Kamera 100D ini dapat memasang semua lensa-lensa DSLR Canon EOS secara langsung tanpa adapter. Kamera 100D dipaket dengan lensa zoom kit baru, 18-55mm f/3.5-5.6 IS STM.

Lensa ini merupakan penyempurnaan dari lensa kit sebelumnya dan kemungkinan besar akan dipaketkan dengan kamera-kamera DSLR Canon di masa depan. STM adalah teknologi motor fokus di lensa yang mulus dan tidak bersuara.

Salah satu lensa lain yang cocok dengan 100D adalah Canon 22mm f/2 STM yang berukuran sangat ringan dan tipis.

Sampai saat ini, saya menyambut baik kehadiran produk baru Canon ini. Tapi yang agak mengkhawatirkan adalah ergonominya. Ukuran kecil memaksa Canon untuk mengecilkan pegangan, kenop dan tombol.

Beberapa fungsi tombol juga dihilangkan. Untungnya kamera ini dilengkapi fitur layar sentuh, sehingga pengguna tinggal menyentuh layar untuk mengganti pengaturan kamera.

Saat mengunakan lensa yang panjang dan berat, keseimbangan dapat terganggu. Namun bagi penggemar fotografi yang memiliki tangan yang kecil (contohnya wanita dan anak-anak), atau yang ingin membawa kamera DSLR berkualitas yang kecil untuk jalan-jalan, Canon EOS 100D ini merupakan pilihan yang baik.

Spesifikasi utama Canon EOS 100D:

- 18 MP CMOS Sensor APS-C
- Prosesor DIGIC 5
- 9 titik fokus, 1 titik fokus berjenis silang
- Kecepatan foto berturut-turut 4 foto perdetik
- ISO 100-12800 (bisa diperluas ke 25600)
- Video 1080p30
- Layar LCD 3" sentuh
- Berat: 407gram dengan baterai terpasang
- Dimensi: 117 x 91 x 69 mm

Kamera Superzoom Paling Kecil di Dunia

Teknology - Kamera ini disebut-sebut sebagai kamera super-zoom paling ringan dan paling kecil di dunia. Adalah Cyber-shot DSC-HX50V yang baru saja diperkenalkan oleh Sony.


Di dalamnya, HX50V mengawinkan sensor CMOS BSI 20.4MP dengan prosesor BIONZ. Yang menjadi sorotan di sini adalah lensa f/3.5-6.3nya yang dibekali kemampuan zoom hingga 30x, atau setara dengan 24-720mm.

Menariknya, superzoom itu dikemas dalam bodi yang hanya berukuran 4,25 x 2,5 x 1,5-inch (108,1 x 63,6 x 38,3 mm). Sony mengklaim kamera tersebut menjadi kamera dengan kemampuan 30x zoom yang tak hanya paling kecil namun juga paling ringan.

Selebihnya, terdapat LCD 3 inch 921.000 dot dan ISO yang bisa dimaksimalkan hingga 12.800. Terdapat juga WiFi dan GPS dalam piranti yang dibanderol dengan harga USD 450 itu.

Kemampuan lainnya adalah penangkapan video 1080/60p, teknologi Steady Shoot dan daya tahan baterai hingga 400 bidikan. Di bodinya, Sony juga memasangkan mode dial, kontrol exposure, serta hot shoe untuk microphone, electronic viewfinder serta flash.

Monday, 29 April 2013

Canon EOS Mirrorles Kamera Terbaru Rilis Tahun Ini

Akhir-akhir ini Kamera Mirrorles Telah banyak rilis, ini akan bersaing dengan SLR, dan Mirrorles ini sendiri lebih baik dari Slr karena gambar langsung dari lense ke jendela bidik, sangat berbeda dengan Dslr yang gambarnya di pantulkan dari cermin ke jendela bidik, Mirrorles tidak ada batasan shuter, sedangkan SLR ada batasannya.mirrorles sudah di lengkapi lensa yang dapat di lepas-lepas.

Canon seperti diketahui menjadi salah satu perusahaan mayor terakhir yang menggelontorkan produk di kategori mirrorless. Nah, setelah kehadiran EOS M, Canon diisukan bakal melakukan 'relaunch' untuk sistem kamera tersebut.

Situs Canon Rumors memberikan indikasi bahwa perusahaan Jepang ini sudah memiliki ancang-ancang. Seperti dikutip dari UberGizmo, Senin (29/4/2013), dalam hitungan bulan, Canon akan menyegarkan sistem EOS M dengan 2 kamera anyar.

Rumor yang beredar juga menyebutkan, salah satu dari dua model yang dimaksud bakal sepenuhnya menggantikan EOS M yang telah ada. Sedangkan satunya lagi diharapkan berada di model yang lebih high. Kemampuan autofocusnya juga disebut-sebut akan ditingkatkan.

Tak hanya bodi kamera, penyegaran ini juga memasukkan 3 lensa baru di tahun 2013. tentu saja, jika terbukti benar, maka konsumen akan memiliki lebih banyak pilihan. Ada potensi juga, produk tersebut lebih kompetitif dengan merek lain yang juga mengusung sistem mirrorless.

Motret Pakai iPad Bisa Zoom 12x Dengan TelePhoto

Sekarang iPad pun sudah seperti kamera slr , bisa memotret kambar dengan jarak lumayan jauh hingga 12x zoom, waw....
itulah teknology, persaingan semakin merajalela, kebutuhan akan fotografipun meninggakat, dengan gadget saku ini pun bisa memotret gambar yang lumayan jauh..

penasaran kan, mari kutip penjelasnya berikut ini.

Photojojo merilis lensa eksternal, iPad Telephoto Lensa. Sesuai namanya, aksesoris fotografi tersebut memang kompatibel untuk para pemilik komputer tablet keluaran Apple.

Daya tarik dari lensa ini adalah kemampuan zooming-nya yang panjang. Saat dipasangkan di iPad 3 atau iPad 4, lensa ini menawarkan kemampuan optical zoom 10x. Sementara jika digunakan iPad Mini, kemampuan zoom-nya bisa hingga 12x.

"Lensa ini mendekatkan Anda pada subyek tanpa harus bergantung pada digital zoom milik iPad," jelas Photojojo dalam situsnya yang dikutip detikINET, Senin (29/4/2013).

Dibekali dengan cincin fokus manual, iPad Telephoto Lens ini bisa diboyong dari situs ini dengan harga tebusan USD 25 atau sekitar Rp 250 ribu.




Namun sebelum membelinya, perlu diketahui juga bahwa lensa ini lebih didesain untuk pemotretan casual alih-alih untuk foto pro. Pembesutnya mengatakan, produk ini menawarkan foto dengan tampilan dreamy lo-fi dengan sedikit vignetting.

Sunday, 28 April 2013

Teknik Panduan Memilih Lensa Canon

Setiap lensa ada kastanya, baik lensa zoom, telefoto dan fix. Tulisan ini mungkin bisa memberi sedikit panduan bagi yang pusing memilih lensa Canon yang jumlahnya puluhan.

Saya tidak membahas semua lensa di sini, terutama lensa-lensa khusus (macro, tiltshift dll), tapi lensa-lensa umum seperti zoom dan fix cukup banyak yang saya tulis di sini. Lensa lama juga saya tidak ulas karena kebanyakan tidak diproduksi lagi.

Ada dua jenis lensa Canon berdasarkan diameternya, yaitu EF-Sdan EF: Lensa EF-S, sesuai dengan singkatannya 'S' yang artinya small, berdiameter lebih kecil dari lensa EF sehingga hanya dapat mencakupi sensor berukuran APS-C. Sebagian besar kamera DSLR Canon yang beredar bersensor jenis APS-C.

Lensa EF berdiameter lebih besar dari lensa DX sehingga dapat mencakupi sensor berukuran APS-C dan juga full frame yang ukuran fisiknya setara film 35mm.

Ada juga lensa berlabel seri L, yang biasanya ditandai dengan fisik lensa yang berwarna putih atau/dan lingkaran merah. Lensa seri L ini berkualitas tinggi dan biasanya memiliki bahan bodi yang tahan air dan debu. Semua lensa seri-L adalah lensa EF, cocok untuk semua kamera DSLR Canon EOS.

Lensa-lensa di bawah ini cocok dipakai untuk kamera DSLR Canon EOS yang masih diproduksi sampai hari ini. Untuk harga, hanya perkiraan saja, untuk tepatnya periksa ke toko-toko kamera kesayangan Anda.




1. Lensa zoom standar (EF-S)

* Canon 18-55mm f/3.5-5.6 IS: Biasanya dipaketkan dengan kamera tingkat dasar (1100D, 650D). Estimasi hargaRp 1.25 juta.

* Canon 18-135mm f/3.5-5.6 IS: Biasanya dipaketkan dengan kamera tingkat menengah/canggih 60D/7D. Lensa ini lebih praktis dari 18-55mm karena rentang fokusnya lebih panjang, cocok untuk jalan-jalan. Estimasi hargaRp 4 juta.

* Canon 18-135mm f/3.5-5.6 IS STM: Adanya STM membuat akuisisi fokus lebih mulus saat merekam video.

* Canon 15-85mm f/3.5-5.6 IS: Sedikit lebih lebar jarak fokusnya tapi lebih pendek, sisi lebarnya lumayan bagus untuk buat foto landscape yang lebih dramatis. Kualitas foto dan ketajamannya setingkat dari kedua lensa di atas. Kualitas lensa juga lebih kokoh. Estimasi harga Rp 6.6 juta.

* Canon 17-55mm f/2.8 IS USM: Lensa zoom EF-S terbaik, punya image stabilization, ideal buat berbagai jenis fotografi dari acara, pemandangan, portrait, dll. Estimasi harga Rp 9.6 juta.

Rekomendasi: Canon 15-85mm bagus untuk yang mencari lensa jalan-jalan berkualitas yang seimbang dari segi ukuran, harga, kinerja. 17-55mm f/2.8 IS cocok untuk fotografi liputan dan portrait.

2. Lensa zoom standar (EF)

* Canon 24-105mm f/4 IS L: Lensa praktis untuk jalan-jalan, ketika dipasang di kamera full frame, sudut pandangnya mirip 16-85mm f/3.5-5.6 VR. Rp 10.5 juta

* Canon 24-70mm f/2.8L II: Lensa berkualitas tinggi, tajam, kokoh dan gesit, andalan profesional. Rp 20 juta

Rekomendasi: Kalau tidak keberatan dengan harga dan ukuran fisik lensa, 24-105mm dan 24-70mm akan memberikan kualitas foto yang sangat baik.

3. Lensa sapujagat (EF & EF-S)

* Canon EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS: Lensa sapujagat, praktis bagi orang-orang yang ingin lensa lebar dan tele menjadi satu, sehingga tidak repot ganti-ganti lensa. Harga yang mesti dibayar adalah ukuran lensa lebih besar tapi kualitasnya standar-standar saja. Rp 6.1 juta

* Canon EF 28-300mm f/3.5-5.6 IS USM L: Lensa sapujagat untuk kamera Canon full frame. Sudah cukup berumur dan desainnya terlalu besar. Rp 15 juta

4. Lensa zoom lebar (EF & EF-S)

* Canon 10-22mm f/3.5-4.5: Lensa super lebar yang biasanya digunakan untuk foto pemandangan atau jurnalistik. Kualitasnya bagus. Rp 6.5 juta

* Canon 17-40mm f/4 L: Lensa super lebar yang dirancang untuk kamera Canon full frame, tapi sering digunakan juga di kamera crop karena punya rentang fokal yang cukup praktis. Memuat filter berukuran 77mm. Biasanya dipilih karena harganya yang cukup terjangkau. Rp 7.25 juta

* Canon 16-35mm f/2.8 L II: Lensa super lebar dibuat untuk kamera full frame Canon seperti 5D, 6D, 1D. Cukup praktis dan bisa diandalkan. Merupakan idaman fotografer pemandangan atau jurnalistik. Rp 14.2 juta

Rekomendasi: Lensa Canon EF-S 10-22mm f/3.5-5.6 kualitasnya sangat baik, tapi bagi yang keberatan harganya ketinggian atau membutuhkan bukaan yang lebih besar, alternatifnya yaitu Tokina 11-16mm f/2.8 dan 12-28mm f/4. Untuk kamera full frame, saya merekomendasikan 17-40mm f/4, atau 16-35mm f/2.8.

5. Lensa zoom telefoto (EF-S dan EF)

* Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS – Lensa telefoto murah meriah, kualitasnya lumayan dibandingkan dengan harganya. Terkadang dipaketkan dengan pembelian kamera baru. Rp 2.2 juta.

* Canon 75-300mm f/4-5.6 III – Lensa 'murmer' di bawah 2 juta biasanya, kualitas fotonya kurang kontras, tajam dan ada penyimpangan warnanya. Rp 1.5 juta.

* Canon 70-300mm f/4.5-5.6 IS -Kinerja autofokusnya bagus, kualitas foto juga di atas standar karena ada elemen dispersi rendah. Cocok untuk satwa liar, olahraga lapangan. Rp 6.6 juta.

* Canon 70-200mm f/4 L- Kualitas fotonya bagus dan ukurannya tidak seberat yang f/2.8. Harganya juga terjangkau. Namun tidak adanya anti getar (IS) dan bukaan maksimumnya sedang, membuat Anda kesulitan saat memotret di kondisi kurang cahaya. Rp 7.4 juta.

* Canon 70-200mm f/4 IS L – Kualitas fotonya bagus dan ukurannya tidak seberat yang f/2.8. Teknologi anti getarnya sangat baik, bisa meredam getaran hingga 4 stop. Rp 11.1 juta.

* Canon 70-200mm f/2.8 L- Kualitas fotonya bagus dan kecepatan autofokusnya tinggi, tidak memiliki image stabilization, tapi harganya cukup jauh berbeda dengan yang ada IS nya (lensa dibawah). Cocok untuk fotografi aksi seperti olahraga, satwa liar. Rp 12.2 juta.

* Canon 70-200mm f/2.8 IS L II – Lensa paling top, memberikan kualitas foto dan AF yang sangat bagus, biasanya diandalkan oleh profesional. Karena ada IS, lensa ini praktis untuk fotografi di kondisi cahaya gelap atau terang. Jenis fotografi yang cocok antara lain pernikahan, portrait, olahraga, satwa liar Rp 20.3 juta.

* Canon 70-300mm f/3.5-5.6 L IS – Salah satu lensa telefoto seri L terbaru Canon, kualitasnya foto yang dihasilkan bagus dan fisiknya tidak terlalu besar, tapi sayang bukaannya agak kecil dan tidak konstan. Rp. 15 juta.

* Canon 70-300mm f/4.5-5.6 DO IS – Salah satu dari lensa dengan label DO, yang berarti memiliki ukuran fisik yang kecil dan lebih ringan daripada lensa telefoto seri L lainnya. Rp. 13 juta.

* Canon 100-400mm f/4.5-5.6 IS L – Mencapai 400mm, lensa ini biasanya diminati oleh fotografer satwa liar. Rp 16 juta.

Rekomendasi: Banyak sekali lensa telefoto yang dipunyai Canon. Tapi yang paling terkenal adalah seri 70-200mm nya. Seringkali orang-orang kebingungan untuk memilih salah satunya.

Untuk lebih jelasnya, saya pernah menulis memilih lensa telefoto Canon 70-200mm. Untuk yang ingin berhemat dan memiliki lensa berukuran lebih ringan, 55-250mm f/4-5.6 IS lumayan oke.

6. Lensa fixed/prime (tidak bisa zoom, kecuali pakai kaki) Semuanya bertipe EF

* Canon 24mm f/1.4 II L- Biasanya untuk pemandangan, street photography. Rp 15.5 juta

* Canon 35mm f/1.4 L – Biasanya untuk fashion portrait, prewedding, street photography. 13.2 juta

* Canon 35mm f/2 IS Rp. Sama dengan yang diatas, namun bukaan maksnya lebih kecil, tapi punya anti getar/IS. 8.7 juta

* Canon 40mm f/2.8 STM – Lensa pancake yang ukurannya sangat kecil. Punya motor STM sehingga autofokusnya lebih mulus. Rp 1.5 juta

* Canon 50mm f/1.8 -Lensa fix termurah Canon. Kualitas bodi dan dudukan lensa dari plastik. Lumayan tajam terutama saat memakai f/4-8 Rp. 850 rb

* Canon 50mm f/1.4 – Lensa klasik 50mm Nikon Rp 3.65 juta

* Canon 50mm f/1.2 L- Salah satu lensa yang populer untuk portrait, atau wedding karena bukaannya yang besar mampu membuat latar belakang sangat blur. Rp 14 juta.

* Canon 85mm f/1.8 L- Lensa ini autofokusnya cepat dan hasilnya cukup lembut sehingga cocok untuk portrait close-up atau candid. Rp 3.75 juta .

* Canon 85mm f/1.2L – Lensa spesialis untuk portrait, cuma lebih kontras dan tajam dibanding dengan yang f/1.8 dan latar belakang lebih blur. Rp 21 juta.

* Canon 100mm f/2.8 Macro ISL – Untuk menangkap detail subjek berukuran kecil, contoh serangga, bunga. Rp 8.2 juta.

* Canon 135mm f/2 L – Populer untuk foto portrait close-up, fashion. Sulit untuk kondisi cahaya kurang karena tidak ada Image Stabilizationnya. Rp 8.6 juta.

* Canon 200mm f/2G IS L- Olahraga lapangan, fashion. Rp 55.3 juta.

* Canon 300mm f/2.8 ISL – Olahraga lapangan, satwa liar, burung. Rp 58 juta.

* Canon 300mm f/4 IS L – Lensa telefoto alternatif yang lebih murah karena bukaan maksimumnya lebih kecil. Rp 13.3 juta.

Rekomendasi: Beberapa lensa yang menurut saya oke banget yaitu 50mm f/1.2, 85mm f/1.2. 135mm f/2 juga menghasilkan foto yang kontrasnya tinggi dan tajam, tapi sulit makainya kalau kondisi cahaya tidak mendukung (gelap).

Kalau untuk yang dananya terbatas, Canon 85mm f/1.8, 50mm f/1.8 adalah lensa yang hasilnya melebihi harganya. Untuk penggemar makro, Canon 100mm f/2.8 IS L Macro merupakan lensa yang sangat bagus.

TEKNIK FOTO LOW KEY

Low key cocok untuk memberikan nuansa misterius, kesedihan ke dalam foto. Biasanya digunakan untuk foto kedukaan, portrait misterius, dan yang tema foto yang menyeramkan (horror).

Cara memotret low key adalah mempersiapkan latar belakang yang bernuansa gelap, seperti hitam atau warna tua. Pilihlah pakaian yang juga gelap seperti warna hitam. Pengaturan exposure tidak harus di nol, tapi justru agak digelapkan supaya suasana gelapnya lebih kentara.

Light modifier (pembentuk cahaya) yang dipasang di depan lampu kilat yang efektif biasanya yang membatasi penyebaran cahaya seperti: standard reflector dengan honeycomb, strip softbox (30x125cm), barn door, dan snoot.

Untuk pemotretan portrait low key, biasanya tantangannya adalah mengarahkan cahaya ke bagian yang bagus dan membatasi cahaya untuk tidak menerangi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kita perlu mengamati subjek secara seksama, dan kemudian memutuskan light modifier apa yang digunakan, dan juga ke arah mana. Sebaliknya, kita juga harus menentukan bagian yang kurang begitu menarik untuk tidak disinari sehingga tertutup oleh bayangan.

Pose dan ekspresi subjek juga menentukan keberhasilan foto low key. Perlu komunikasi dan kerjasama antara fotografer dan subjek foto yang baik untuk menghasilkan foto low key yang menarik.


TEKNIK FOTO HIGH KEY

Foto high key cocok untuk memberikan suasana cerah, gembira, dan cantik. Foto high key banyak digunakan untuk foto keluarga, foto kecantikan (beauty), foto anak dan bayi. Di dalam foto pemandangan, foto high key sering kita jumpai saat memotret salju atau saat berkabut.

Cara memotret high key adalah memilh latar belakang yang berwarna cerah seperti putih, atau warna terang seperti kuning. Untuk portrait, warna pakaian dan aksesoris juga harus disesuaikan.






Jika mengunakan cahaya yang konstan (bersinar secara kontinyu), maka pengaturan exposure harus disesuaikan ke arah + (lebih terang dari pengukuran/metering kamera).

Light modifier yang dipasang di depan lampu kilat yang efektif biasanya yang berukuran cukup besar sehingga dapat membanjiri subjek dan background dengan cahaya. Antara lain: softbox berukuran besar(80x120cm), oktabox (150cm), background reflector, dan beauty dish (70cm).

Dengan mengunakan light modifier berukuran besar, penyebaran cahaya luas dan cahaya yang jatuh ke subjek bersifat halus. Cahaya yang halus sangat baik untuk pemotretan beauty/kecantikan. Karena cahaya yang menyebar akan mengisi pori-pori, keriput di wajah sehingga terlihat mulus.

Biasanya tantangan yang ditemui di foto high key adalah kita harus benar-benar pintar dan kreatif dalam mengarahkan pose dan gaya. Dengan komunikasi yang baik, kita bisa mendapatkan ekspresi atau momen-momen menarik yang tak terduga.

Atur Settingan Kamera Ponsel

Tidak ada konfigurasi yang paling tepat, tapi semua tergantung kondisi dan keinginan masing-masing. Yang penting adalah kita mengetahui fungsi dan efek yang ditimbulkan setiap pengaturan/setting.

1. White Balance itu mengatur keseimbangan warna dan warna foto akan berubah sesuai dengan setting yang dipilih.

Auto : Kamera akan memilih warna supaya netral dan akurat secara otomatis. Contohnya warna putih juga putih di foto.

Daylight / Sunny : Akan netral saat digunakan saat siang hari saat matahari bersinar terang. Jika dipakai di dalam ruangan atau saat berawan, warna di foto akan lebih kekuningan.

Cloudy : Akan netral saat dipakai saat cuaca berawan, atau subjek di bawah bayangan. Akan terlihat lebih kuning saat di dalam ruangan atau subjek disinari matahari langsung.

Tungsten / Incandescent : Akan membuat lampu pijar yang berwarna kuning menjadi putih, membuat wajah atau subjek foto netral saat disinari lampu yang kekuningan. Jika dipakai saat foto landscape, warna akan cenderung ke arah kebiruan.

Flourescent: Berguna menetralkan warna neon seperti di ruangan kantor.

Untuk foto lanscape saat pagi atau sunset, setting cloudy akan membuat warna lebih kuning, dan setting tungsten akan membuat foto landscape lebih biru.

2. ISO adalah sensitivitas dari sensor gambar, semakin tinggi nilainya, semakin sensitif cahaya tapi kualitas foto memburuk karena munculnya noise atau titik-titik/bercak pada foto. Idealnya mengunakan ISO paling rendah untuk hasil yang maksimum.

Tapi jika kondisi cahaya gelap, ISO perlu dinaikkan untuk mencegah foto goyang karena blur. ISO 100 menghasilkan kualitas terbaik, cocok untuk kondisi siang hari. ISO 200-400 cocok untuk sore hari menjelang matahari terbit/tenggelam dan ISO 400/800 cocok untuk foto dalam ruangan atau malam hari.

3. Pencahayaan bisa diatur dengan setting kompensasi exposure yang bersimbol plus minus. Semakin ke kanan kita menggeser slider, semakin terang pencahayaannya, demikian sebaliknya. Dalam praktiknya, kita bisa set ke arah minus sedikit supaya langit tidak terlalu terang dalam pemotretan landscape.

4. Terakhir adalah kontras. Setting kontras mengendalikan seberapa kontras foto. Atau dengan kata lain semakin tinggi nilai kontras, semakin besar perbedaan daerah yang terang (highlight) dengan daerah bayangan (shadow).

Gambar yang kontras biasanya menarik perhatian mata daripada gambar yang berkontras rendah. Tapi kontras yang terlalu tinggi menghilangkan detail terutama di daerah gelap.

Mengingatkan kembali, tidak ada satu setting yang cocok untuk setiap kondisi dan situasi. Cobalah utak-utik setting-setting diatas supaya mendapatkan foto yang menarik sesuai keinginan hatimu.

Selamat mencoba.

Canon EOS 650D

Salam, saya mau tanya, kira-kira kamera Canon apa yang bagus untuk pemula, tipe yang bagaimana yang sekiranya cocok buat dipakai out door dan in door? Kalau 650D oke tidak, apa kelebihan dan kekurangannya? Terimakasih.

Jawaban:

Salam fotografi! Kamera Canon DSLR tingkat dasar untuk pemula memang ada beberapa jenis, Canon EOS 650D merupakan kamera DSLR untuk pemula yang terbaru saat saya menjawab pertanyaan ini.


Kelebihannya dibandingkan dengan kamera menengah atau canggih terletak di ukurannya yang relatif ringan dan kecil, punya layar LCD touchscreen yang bisa juga dilipat, dan kinerjanya lebih tinggi daripada jenis kamera tingkat dasar yang lain.
Kualitas foto yang dihasilkan juga tidak kalah dengan kamera yang lebih canggih misalnya 60D dan 7D.

Kekurangan 650D terletak di casing badan kamera terbuat dari plastik yang tidak begitu kokoh dan tidak tahan air. Kelemahan lain yaitu daya tampung memori internal tidak begitu banyak, sehingga akan macet kalau dipaksa foto berturut-turut dalam jangka waktu sekitar 5-6 detik

Singkatnya, menurut saya Canon 650D merupakan kamera tingkat dasar yang cukup sempurna, kaya fitur, tapi tidak begitu rumit dioperasikan. Selamat memilih.


Tulisan di Belakang Objek Foto

Membuat tulisan seperti di belakang objek foto di Photoshop perlu beberapa langkah dan pemahaman tentang layer dan masking. Tapi mudah-mudahan jawaban langkah demi langkah ini dapat membantu.

1. Buka foto yang ingin dimodifikasi di Adobe Photoshop.

2. Klik dua kali layer background dan kemudian klik OK. Nama layer akan berubah jadi Layer 0





3. Duplikat layer 0 dengan klik kanan dan pilih duplicate layer. Layer baru akan muncul dengan nama Layer 0 Copy.




4. Aktifkan layer 0 dan kemudian tulis apa yang diinginkan dengan Type tool (bersimbol T).


5. Tulis, posisikan dan atur jenis font dan ukuran yang dikehendaki.






6. Tahan dan geser layer tulisan ke antara dua layer foto






7. Klik Layer 0 copy lalu tambahkan layer mask. Simbol layer mask terletak dibagian bawah panel Layer, ketiga dari kiri.





8. Cat bagian langit untuk memunculkan tulisan. Jangan sampai subjek tercat. Jika subjek tercat, kuas balik dengan cat warna putih di layer mask-nya.





9. Setelah selesai, foto bisa di Save As menjadi format file yang dikehendaki.


Thursday, 25 April 2013

DSLR VS. PROSUMER (VS. MIRRORLESS)



DSLR VS. PROSUMER (VS. MIRRORLESS)


Sebenarnya saya sudah lama ingin membuat blog post tentang perbandingan dan perbedaan berbagai format kamera. Tapi selalu kelupaan dan/atau tidak sempat. Akhirnya saya coba tuliskan di artikel ini, semoga berguna :)
Banyak orang yang pertama kali ingin mencoba hobi fotografi, bingung memilih kamera pertamanya: apakah perlu membeli DSLR, ataukah cukup menggunakan kamera prosumer (atau pocket)? Selain itu, belakangan ini muncul berbagai macam kamera mirrorless yang (bisa dikatakan) berada di antara DSLR dan pocket/prosumer. Tujuan dari artikel ini adalah menjelaskan perbedaannya, secara umum.
Secara umum, perbedaan antara DSLR dan pocket/prosumer adalah di:
  1. Ukuran sensor
  2. Lensa yang fixed vs. yang dapat diganti
  3. Kemampuan dan kemudahan dalam mengubah settingan kamera
  4. Dukungan aksesoris
Mari kita bahas satu per satu:

Ukuran Sensor

Secara umum, DSLR mempunyai ukuran sensor yang (jauh) lebih besar daripada pocket/prosumer. Di antara kamera pocket/prosumer sendiri pun ukuran sensor bervariasi: kebanyakan kamera mempunyai sensor berdiagonal 1/2.3 inci, sedangkan kamera yang lebih “bagus” mempunyai sensor berukuran 1/1.7 inci. Bandingkan dengan DSLR yang mempunyai diagonal sensor sekitar 1 inci. DSLR fullframe lebih besar lagi sensornya, tapi kalau Anda menggunakan kamera fullframe sepertinya sudah mahir dan tidak akan membaca blog ini, hehehe..
Apa saja efek dari perbedaan ukuran sensor ini?

Kerapatan Pixel

Sensor bertugas menangkap cahaya, dan cahaya ditangkap dalam “sumur-sumur” kecil. Ukuran sensor secara tidak langsung menentukan kerapatan (dan ukuran) sumur-sumur ini. Semakin besar sumurnya, maka performa sensor cenderung akan semakin bagus, untuk teknologi yang sama. Karena kerapatan adalah jumlah per area luas, maka jumlah (mega)pixel sensor ybs juga berpengaruh: sensor berukuran yang sama, dengan teknologi yang sama, akan cenderung lebih bagus kualitas gambarnya jika mempunyai megapixel yang lebihsedikit.
Bisa diibaratkan dengan kerapatan penduduk: semakin besarkerapatan/kepadatan penduduk, maka setiap penduduk akan mempunyai ruang yang lebih sempit untuk bernafas dengan lega.
Jika Anda jeli, akan terlihat bahwa saya beberapa kali menekankan “teknologi yang sama”. Hal ini karena perkembangan teknologi memungkinkan kamera dengan kerapatan pixel yang besar akhirnya mempunyai performa yang melebihi kamera dengan kerapatan pixel yang lebih kecil.
Memangnya apa sih pengaruhnya kerapatan pixel (dan teknologi) ke image quality?

Dynamic Range

Dynamic range adalah rentang yang dapat ditangkap kamera, dari yang paling terang hingga yang paling gelap. Bisa dilihat di foto berikut:
Dynamic range: dari daerah paling terang (matahari) hingga daerah paling gelap (bayangan pohon)
Kamera yang rentang DRnya luas akan mampu menangkap detail gelap lebih jauh sebelum hilang menjadi warna hitam datar (seperti daerah bayangan di pojok kiri bawah foto ilustrasi), begitu pula di daerah terang sebelum hilang menjadi warna putih datar (seperti titik cahaya di kanan atas).
Lucunya, biasanya dynamic range yang disimpan dalam format JPEG hanya mempunyai rentang DR 9 EV, sedangkan kebanyakan kamera mampu menangkap lebih dari itu (kamera prosumer ada yang mampu menangkap detail 11EV, bahkan lebih). Hal ini berarti perbedaan dalam hal DR tidak akan begitu terlihat jika kita memotret JPEG di kamera. Perbedaan hanya akan terlihat jika kita memotret RAW untuk diedit (brightnessnya) kemudian.Atau, jika kita mengubah level kontras hasil JPEG kamera (kebanyakan kamera DSLR mempunyai pilihan untuk mengubah kontras hasil JPEGnya).

Bit Depth

Bit atau color depth adalah jumlah informasi yang bisa ditangkap oleh masing-masing “sumur” di sensor tadi. Makin banyak informasi visual yang tersimpan, berarti:
  1. Ruang untuk postprocessing/olah digital lebih lega. Misalnya, jika kita memotret seseorang di sebelah lampu neon berwarna hijau, maka kulit orang tersebut juga akan terpengaruh dan menjadi lebih hijau dari normal. Dengan color depth yang luas, kita bisa mengubah warna kulit menjadi “normal”. Jika color depth tidak mencukupi, maka warna kulit akan terlihat aneh, bahkan jika kesan hijaunya sudah hilang. Tapi (sekali lagi) ini hanya berlaku untuk file format RAW. Jika sudah menjadi JPEG, maka color depth akan “terpotong” mengikuti batasan format JPEG tersebut :)
  2. Bagian yang gelap akan mempunyai warna yang lebih “kaya”. Sebuah mawar merah akan terlihat merah menyala di pencahayaan yang cukup. Namun, jika mawar tersebut (sengaja atau tidak) jatuh di daerah yang underexposed (mendapat pencahayaan yang kurang), maka warna merahnya akan berkurang. Dengan color depth/kedalaman yang lebih dalam, masing-masing “sumur” akan menangkap informasi warna yang lebih banyak, sehingga lebih kaya warna. Hal ini juga akan terlihat walaupun menggunakan format JPEG :)

Noise

Semakin kecil “sumur”, alias semakin besar kerapatan pixel, maka masing-masing sumur mendapat jatah cahaya yang lebih sedikit. Singkatnya, hal ini menyebabkan noise yang lebih tinggi.
Selain kerapatan pixel (yang, sekali lagi, juga dipengaruhi teknologi), ukuran sensor juga mempengaruhi…

Focal Length Lensa

Ukuran sensor yang kecil, cenderung akan membutuhkan focal length lensa yang lebih kecil. Focal length lensa yang lebih kecil (focal length asli, bukan ekivalen) menyebabkan depth of field yang lebih tebal. Ini kabar baik bagi Anda yang sering memotret landscape (karena Anda ingin foto tajam dari depan ke belakang), tapi kabar buruk bagi yang ingin membuat efek bokeh.
Ngomong-ngomong tentang lensa….

Lensa yang Bisa Diganti

Perbedaan mencolok kedua antara DSLR dan prosumer adalah di lensanya. DSLR (dan mirrorless) mempunyai lensa yang bisa ditukar/diganti. Namun, lensa yang kita dapatkan sewaktu membeli kamera (lensa kit) biasanya hanya mempunyai zoom 3x. Kamera pocket biasa mempunyai lensa dengan zoom 4-5x, dan kamera prosumer lazim memiliki zoom yang besar, 10x bahkan hingga 20x.
Setau saya, merancang lensa yang mempunyai rentang zoom yang besar itu sulit. Sulit untuk menjaga kualitas tetap bagus sepanjang rentang zoom yang luas tersebut. Ini juga berlaku di lensa jenis “sapujagad” di DSLR/mirrorless (misalnya 18-200 atau 18-135), biasanya mempunyai kualitas yang kalah jika dibandingkan lensa dengan rentang zoom yang pendek (mempunyai dua lensa 18-55 dan 55-200, misalnya, akan menghasilkan kualitas gambar yang lebih bagus daripada mempunyai satu lensa 18-200.. namun perlu mengganti lensa sesekali).
Saya belum pernah membandingkan sendiri, atau membaca review yang secara langsung membandingkan kualitas lensa DSLR vs. prosumer. Namun jika ingin menebak-nebak, maka lensa DSLR (yang harganya setengah, sama, atau bahkan bisa lebih mahal dari kamera prosumer) sepertinya bisa dipastikan mempunyai kualitas yang kurang jika dibandingkan kamera DSLR :)
Tapi, tidak bisa disangkal, prosumer mempunyai kemampuan untuk men-zoom 20x tanpa perlu mengganti lensa. Hal ini bisa menjadi sangat praktis, terutama jika Anda suka mengambil foto sesuatu di kejauhan.

Mengubah Settingan

Hal ini sebenarnya lebih spesifik ke model kameranya, daripada ke tipe (DSLR vs. prosumer). Secara umum, kamera DSLR memberikan pilihan yang lebih luas bagi kita untuk memilih dan mengubah settingan (segitiga exposure atausettingan lain). Selain itu, seringkali di DSLR mempunyai kontrol yang lebih baik dan lebih mudah untuk mengganti settingan tersebut.
Perbedaan antara pocket dan prosumer sendiri, selain ukuran sensor (yang belum tentu berbeda; ada juga prosumer dengan ukuran sensor kecil seukuran pocket biasa), adalah di kemampuan dan/atau kemudahan mengganti settingan.
Karena hal ini juga dipengaruhi desain model kamera masing-masing, lebih baik memeriksa review atau mencoba sendiri kamera yang ingin Anda pertimbangkan, untuk mencari tahu kemudahan dan kemampuan mengubah setting di kamera tsb :)

Aksesoris

Banyak aksesoris yang dirancang hanya untuk kamera (atau lensa) DSLR. Selain itu, beberapa prosumer juga tidak mempunyai outlet untuk menggunakan aksesoris tertentu (misalnya tidak mempunyai hotshoe untuk memasang flash, atau mempunyai adapter untuk memasang filter).

Bagaimana dengan Mirrorless?

Dahulu kala, tipe kamera dibagi menjadi dua, dengan pembagian yang jelas dan jarak yang jauh: DSLR dan pocket/prosumer.
Seiring majunya teknologi, muncul tipe kamera yang menjembatani kedua tipe tersebut: kamera tanpa cermin refleks, yang membuat ukuran kamera bisa menjadi lebih kecil, dengan ukuran sensor yang lebih besar dari kamera prosumer, bahkan ada yang sama besarnya dengan DSLR.
Sayangnya, tipe kamera mirrorless ini bermacam-macam, baik dari segi ukuran sensor, ketersediaan lensa dan aksesoris, kontrol, dan sebagainya. Saya belum punya waktu untuk membahas semua tipe mirrorless; mungkin lain kali akan saya bahas tipe-tipe mirrorless yang banyak beredar.

Kesimpulan

Prosumer menyediakan kamera dengan lensa yang fleksibel, dan kemampuan untuk mengubah settingan yang lebih canggih daripada kamera pocket, namun dengan image quality yang tidak jauh berbeda.
DSLR menyediakan sensor yang lebih besar, lensa yang (sepertinya) lebih baik, kemungkinan untuk meng-upgrade performa (dengan lensa yang lebih baik ataupun dengan aksesoris), dan kemudahan penggunaan yang lebih baik.. namun dengan harga yang (jauh) lebih mahal juga :)
Dan juga buat para pemula, kalau hanya buat foto2 keluarga dan foto moment anda, sebaiknya pakai lah prosumer/semipro atau kamera mirrorles, karna jika anda pakai SLR , sama dengan pemborosan, karna hasil tak bagus anda hapus begitu saja.